Banyak kesalahan petani pemula saat ia beralih ingin belajar jadi “petani berdasi” yang senyatanya memang sangat menjanjikan “imbal hasilnya” dan sangat bagus prospeknya. Bagus karena menurut Mc Kensy Global Institut, nilai agrikultur pangan Indonesia tahun 2030 itu Rp 6.800 trilyun dan menurut Goldman Sachs Global Economic, Indonesia jadi negara terkaya nomor 7 di dunia !

Tapi sayang, prosek bagus itu kadang tak difahami sepenuhnya. Malah kurang disikapi dengan baik oleh mayoritas petani kita.

Baik, mari kita coba kupas satu persatu apa kesalahan-kesalahan itu, sehingga kita tak perlu mengulangi kesalahan mereka berulang. Minimal kita tahu dulu potensi risikonya, dan kita bisa mengantisipasi atau mengukur tingkat kerugiannya. 

  1. Malas belajar. Belajar adalah satu hal, tapi belajar dengan baik, benar, efektif dan berkesinambungan itu hal lainnya yang berbeda. Karenanya, teruslah belajar sampai kapan pun, bahkan bila Anda sudah memecahkan rekor hasil panen di dunia pun, belajar mah harus terus diasah. 
  1. Belajar bertani atau beternak tanpacoaching. Sebagaimana mempelajari disiplin ilmu sebuah profesi, ilmu bertani pun itu sebenarnya sangat tinggi, kompleks dan sangat menarik. Banyak pemula langsung praktek, namun tak tanya kiri dan kanan dulu, langsung aja praktek. Ya, tak apa sih sebenarnya. Tidak salah itu. Tapi siap-siap saja menerima risikonya, dan diulang menanam lagi dari nol.

Banyak juga yang ingin belajar budidaya lele organik modern sistem biomaksi teknologi maxigrow, tanpa perlu ikut training. Padahal tak untuk belajar budidaya lele itu dibutuhkan mentalitas pengusaha, bukan investor. Punya uang, nanam, dan jadi. Namun harus benar-benar menghayati prosesnya, karena kita berhubungan langsung dengan makhluk hidup. Ya, lele punya karakter tersendiri untuk bisa hidup dan hasilnya bagus.

Mending kita tanya sana-sini dulu, tanya pada praktisi suksesnya. Kalau sulit, kontak Penyuluh Pertanian, Mbah Google. Dekati Oom YouTube. Dan tanyakan kepada mereka. Namun cara terbaik dan tak tergantikan adalah dengan mencari infonya langsung dari sumber terpercaya. Belajar langsung di lapangan dari praktisi suksesnya, dan ikuti trainingnya. 

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS An-Nahl: 43) 

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui (QS Al Anbya 21 : 43) 

  1. Menyepelekan ilmu bertani / beternak. Mentang-mentang punya pupuk hayati yang bagus dan teruji di mana-mana, maka jangan bergantung pada pupuk hayati itu saja. Kita juga harus tahu pemilihan bibit yang bagus, cara menyimpan bibit, jarak tanam atau padat tebar, waktu menanam, cara memelihara tanaman / ternak, waktu pemberian pupuk hayati dan pupuk kimia, dan lain sebagainya. Tidak hanya dipertanian, di sector perkebunan, perikanan dan peternakan pun semua ada ilmunya. 
  1. Salah proses pratanam. Proses pratanam itu sangat sensitif, terutama pada tanaman padi. Jadi benar-benar perhatikan sesuai SOP yang disarankan.

Di lele pun sama, ada yang mati karena kebanyakan makan di awal, bibit awal yang tidak disortir, kurang aerasi, hingga tempat kolam lele bundar di garasi yang gelap dan bikin lele mati semua.

  1. Jangan sekali-kali berkata atau punya anggapan bahwa “Semua Akan Indah Pada Waktunya”. Itu salah besar. Yang benar, buat segala sesuatunya jadi lebih baik dengan bantuan dan pelibatan Allah. Bukankah, “bersama kesulitan itu akan ada kemudahan”(Qs. Al insyirah) dan “Barangsiapa bertaqwa akan diberikan jalan keluar” (At tholaq; 2). 
  1. Alat semprotan yang terkontaminasi. Alat semprotan sprayer itu banyak jenisnya. Ada yang yang manual, ada juga yang elektrik. Namun yang terpenting, jangan gunakan sprayer bekas pestisida untuk pupuk organic cair MaxiGrow MG1. Cuci dulu sampai tiga kali, cek keluarannya. Apakah masih berbau pestisida ? Kalau clear sudah tak bau, jemur dan baru gunakan untuk pupuk MG1.Syukur-syukur bisa beli baru khusus untuk pupuk hayati MaxiGrow. 
  1. Waktu pemupukan siang hari. Bagusnya, waktu memupuk itu sebelum pukul 7 atau setelah pukul 16.30, atau saat matahari tidak terik. Karena saat matahari terik, pupuk kimia terutama, biasanya menguap.

Disisi lain, pemberian pupuk di sore hari dikhawatirkan sore atau malamnya turun hujan, sehingga pupuk tersebut hilang terbawa air hujan. 

  1. Dosis yang kurang tepat. Dosis yang tepat ada pada SOP pemupukan. Bila kurang, rasanya kurang ngefek. Kalau lebih, itu pemborosan. Namun pemberian yang lebih dari pupuk hayati biasanya justru akan membaguskan hasil panen. Sebaliknya, pemberian pupuk kimia yang berlebihan justru akan merusak kandungan kesuburan tanah. 
  1. Terlalu mempertuhankan produk. Pemilihan bibit yang unggul, pupuk hayati yang dahsyat, jadwal penanaman dan pemeliharaan yang terprogram, penggunaan teknologi pertanian lainnya, atau hal lainnya, adalah upaya kita untuk membaguskan hasil panen. Itu sih sah-sah saja. Tapi jangan berlebihan. Karenya, libatkan Allah Tuhan Semesta Alam sebelum, selama dan setelah penanaman hingga panen.

Nah, itu temen-temen yang sejumlah kesalahan-kesalahan yang selama ini saya  temukan pada para petani pemula.

Janganlah menganut ilmu sakarepologi yang sakarep-karepSakarep-karep itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya lebih kurang “asal-asalan”, tanpa landasan ilmu, tanpa bertanya pada yang punya pengalaman panjang. Karenanya, bisa buahayya ! 

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BukhariI – 6015)

Lalu, bagaimana solusinya ? Ya, kontak saja ahlinya, jadilah murid yang baik yang siap di-coach dan teruslah aktif di WhatsApp Group atau komunitas yang tepat !

Yuk kita pelajari tips sederhana ini : “10 Rahasia Sederhana Keberhasilan Panen yang Sering Terlupakan“. Insya Allah bermanfaat !