Sedih dan prihatin saat saya membaca seorang pembudidaya lele di sebuah grup medsos untuk menggunakan ayam tiren (mati kemarin) untuk budidaya lele.

Tak habis pikir : hari gini masih pakai ayam tiren untuk pembesaran lele ? Hadeuh, teganya itu orang.

Secara pribadi dan secara professional, saya sangat tidak merekomendasikan penggunaan ayam tiren untuk budidaya pembesaran lele, apa pun alasannya.

Ayam tiren sebagai alternatif, jelas banyak ruginya daripada untungnya :

  1. Bila dilihat secara seksama, perilaku lele yang diberi ayam tiren juga berubah, seperti : stress, ketahanan akan penyakit, dan kanibalisme.
  1. Tingkat kematian lele (survival rate) jadi tinggi karena karakter kanibalismenya jadi lebih ganas.
  1. Protein pada ayam tiren dibawah 15%, jadi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi agar lele cepat besar yang membutuhkan protein minimal 31%.
  1. Air kolam lele menjadi cepat bau. Dalam beberapa kasus, saya menemukan para tetangga pernah ngamuk karena bau yang menyengat.
  1. Timbulnya berbagai macam penyakit. Potensi terkena flu burung pun diabaikan. Parahnya, si pembudidaya yang menggunakan ayam tiren tidak pernah cek dan ricek tentang riwayat kematian ayam sebelum membeli ayam tirennya. Apakah mati karena virus, atau tidak, mereka tidak memperdulikan.
  1. Pertumbuhan lele yang tidak merata.
  1. Panen menjadi lebih lama dari waktu yang di harapkan, Dan percuma saja bila biaya produksi rendah tapi hasil panen juga rendah.
  1. Saat membawa dan menyimpan tentu saja menimbulkan bau tak sedap. Ini bikin masalah tersendiri bagi pembudidaya.
  1. Penjual ayam tiren bisa dikenakan hukuman pidana 15 tahun, dan pembeli ayam tiren dapat terkena tuduhan penadah.
  1. Karakter si pembudidaya biasanya bisa berubah, karena ada kecenderungan mengambil sikap lebih mementingkan hanya untuk menekan biaya produksi, tanpa memikirkan efek samping. Dia jadi pribad yang egois, berhati keras dan serakah.
  1. Si pembudidaya pengguna tiren sendiri Hidupnya pun tidak happy, karena tidak ada kebaikan dan keberkahan dalam usahanya.

Lalu, kenapa sih di jaman digital dan jaman now seperti sekarang ini masih saja ada orang yang menggunakan ayam tiren ?

Nah ini beberapa penyebabnya :

  1. Ya, memang ngikutin cara-cara pendahulu saja seperti itu.
  1. BIsa menekan biaya pakan jauh lebih murah.
  1. Tidak tahu bahaya pakan ayam tiren sebagai alternative pakan lele bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan lebih serius dari yang kita duga.
  1. Tidak tahu bahwa agama telah keras melarang penggunaan bangkai dan jual beli bangkai, termasuk didalamnya menggunakan ayam tiren sebagai pakan alternatif untuk budidaya pembesaran lele. Dan tidaklah sempurna, bila ada seorang muslim yang menolak ketentuan hukum dari Allah dan yang datang dari Nabinya.

“Maka tidaklah – demi Rabb-mu – tidaklah mereka beriman sampai mereka menghukumkan dirimu dalam masalah-masalah yang mereka perseterukan di antara mereka kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka kesusahan dengan keputusan yang telah engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan berserah.” (Qs; Annisa’ 65)

Menurut Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah), hewan yang diberi makan dengan kotoran, bangkai, darah, dan semacamnya disebut “jalalah“. Hewan “jalalah” itu haram dimakan, berdasarkan hadis dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan daging hewan jalalah. (Hr. Abu Daud dan yang lainnya; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Ustadz Musa Abu ‘Affaf. Lc. pernah menjawab sebuah pertanyaan soal jual beli ayam tiren untuk pakan lele. Kata beliau, ayam tiren, atau ayam mati kemarin hakikatnya adalah bangkai (Maitah). Dan semua bangkai diharamkan, Juga, sesuatu yang telah diharamkan Allah, maka harganya pun haram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain mengharamkan jual beli bangkai, juga melarang memanfaatkan bangkai menjadi apa pun.

Dengan demikian maka ayam tiren tidak boleh dijual belikan, walau pun digunakan untuk pakan lele, dan uang yang didapat dari jual beli tersebut haram

  • “Telah diharamkan atas kalian bangkai dan darah dan daging babi”. (QS; Al-Maidah 3)
  • “Sesungguhnya yang telah diharamkan atas kalian hanyalah bangkai dan darah, dan daging babi, dan hewan-hewan yang disembelih kepada selain Allah”. (Qs: Al-Baqarah 173)
  • “Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila telah mengharamkan sesuatu, Allah haramkan juga harganya”.
  • (Hadits riwayat Addaruquthniy dan Al-Baihaqiy dari Ibnu Abbas
  • “Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan khamr, dan bangkai, dan babi, dan berhala”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
  • “Jangan kalian memanfaatkan bangkai untuk apa pun”
  • (Hadits Shahih, telah di-Takhrij oleh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 3133)

Setelah diketahui bahwa memperjual belikan bangkai ayam hukumnya haram, maka wajib bagi seorang muslim meninggalkannya, dan tidak perlu seorang merasa risau dan khawatir, sebab meninggalkan yang haram karena bertakwa kepada Allah keutamaannya akan diberikan ganti yang lebih baik dari apa yang telah ditinggalkan ,

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

 “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberikanmu yang lebih baik darinya”. (HR: Imam Ahmad No. 20739 dalam Al-Musnad dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Arna’uth beserta timnya)

Nah, dengan alasan teknis, dampak kesehatan dan dosa yang bisa ditimbulkan, masihkan mau membeli dan mengkonsumsi lele yang dibudidayakan dengan pakan alternatif ayam tiren ?