Wow, mohon maaf teman-teman…. bila saya buat judul yang dirasakan provokatif atau sarkastik seperti diatas. Tapi ini harus saya dan team Maxigrow Indonesia sampaikan, karena makin lama makin banyak yang tertipu karena sejumlah alasan. Dan celakanya, itunya ngadunya ke kami.

Biasa, di awal-awal manis dimulut dan indah di imajinasi, namun satu persatu dan lama kelamaan mereka ditinggal secara sistemik dengan berdalih alasan ini itu yang terlihat masuk akal dan pembenaran saja.

Aduh, kasihan….

Para pemilik kolam setelah ikut training, terutama yang sudah buka 10 kolam D2 atau D3 (diameter 2 meter  atau 3 meter), 20 kolam, 60 kolam hingga 200 kolam, satu persatu menghubungi kami. Paling banyak yang tertipu justru di Jawa Barat, Banten, menyusul kemudian di Sumatera dan Jawa Timur.

Singkat kata, yuk kita kenali modus-modus jual kolam dan jual training saja ini :

#1. Pelaku berjanji memberikan pendampingan sampai panen, ternyata tidak. Pendampingan hanya di awal2 saja, berikutnya putus hubungan bisnis dan putus hubungan pribadi. Akhirnya, mereka mengeluh dan konsultasi kepada kami. Sikap kami sudah jelas, silakan diselesaikan terlebih dahulu dengan baik-baik, dari hati ke hati. Dan bila sudah kontrak putus dan tak berkonsuekunsi hukum lagi, silakan kontak dan konsultasi dengan kami, dan kita bangun sistemnya sejak awal dengan SOP Flock Culture System dari awal lagi.

#2. Pelaku memberikan iming-iming hasil panen yang fantastis dalam waktu singkat. Wow, hiperbolis ini. Kan kalau belajar tetep harus belajar sepeda mini terlebih dahulu sebelum balap dengan Valentino Rosssi.

#3. Menjual analisa usaha yang prospektif, tanpa menyesuaikan dengan pelaku usaha yang pemula atau awam di dunia perlelean.

#4. Adanya ketidakjelasan bentuk kontrak pendampingan. Pelaku sengaja menggiring calon korban untuk segera action dan buka kolam banyak, sementara mindset pembudidaya tidak dibentuk terlebih dahulu, Juga tidak dibuatkan kontrak tertulis yang mencantumkan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak.

#5. Motif hanya jual pengalaman, berbagai proyek yang sudah dibuka, tanpa memberi akses pada pemiliknya. Lebih lucu lagi, pelaku mengaku sudah membantu buka kolam disana-sini sekian kolam dan berhasil, padahal saat sang pemilik dihubungi justru mereka pernah dikecewakan dan tak merasa dibantu dengan bantuan yang memadai. Hadeuh….

#6. Pelaku tidak menguasai sistem air dan karakter ikan secara detail, terutama pada aplikasi keseimbangan iar kolabesam, C/N Ratio, proses terbentukya nitrit, nitrat, amoniak dan zat lain yang membahayakan kolam dan merugikan para pembudidaya lele.

#7. Pelaku sangat antusias apa bila calon korban berkeinginan buka kolam dalam jumalh yang banyak atau dalam skala yang  besar. Dan tidak fokus atau kurang tertarik pada pembicaraan persiapan SDM atau Awak Buah Kolamnya.

#8. Pelaku sangat dekat, ramah dan agresif sampai proyek awal sudah siap tanam, Atau maksimal hanya pada 4 bulan pertama saja. Selebihnya tak konsisten melaksanakan kewajiban-kewajibab dan pendampingannya. Masak sih sudah buka 60 kolam baru tapi belum juga ada produksi yang menghasilkan dan masuk akal ?

#9. Pelaku tidak memberikan akses ada para praktisi suksesnya yang ia cliam sudah berhasil ia dampingi dari awal hingga akhir. Yang ada justru mereka malah kecewa dan tidak merasa diberikan solusi yang berarti dari orang yang mengaku dirinya trainer dan praktisi.

#10. Pelaku seringkali menggunakan gaya komunikasi searah dan kurang responsif saat terjadi masalah operasional / pemeliharaan ikan Masalah disampaikan dan minta tanggapan segera, eh ini baru ditanggapi sekian hari kemudian atau tanpa direspon sama sekali. Akibatnya bisa diduga, lelenya terkena musibah besar, menggantung dan mati masal.

#11. Pelalu kurang responsif dan pilih-pilih dalam melayani pada peserta yang tak membeli produk banyak dan tak membeli kolam darinya.

#12. Pelaku hanya menjual sebuah sistem, umumnya yang Sistem RAS tanpa mengetahui apa sistem itu sudah berhasil, teruji dan terbukti secara nyata dan secara ekonomisnya menghasilkan imbal hasil yang nyata setidaknya pada 4 musim tanam berturut-turut, atau terbukti nyata di 4 tempat yang berbeda.

#13. Meng-claim dirinya sebagai trainer tanpa adanya pengakuan dari sebuah perusahaan atau instansi resmi yang sudah mem-fit-and-proper kompetensi dan profesionalitasnya.

Yah, itulah teman-teman…. 13 modus yang saya lihat selama ini di dunia perlelean. Belum lagi yang banyak belajar Sesatologi dari sumber yang tidak kompeten, atau Sakarepologi (sekarep-karep, sesukanya) karena bukan belajar dari ahli yang sudah disertifikasi.

Teman-teman, waspadalah, waspadalah…. pola ini terus saja terjadi hingga sekarang. Dan saya sampaikan ini semata-mata agar jangan ada lagi korban bergelimpangan.

Salam pergerakan, tetap semangat dan merdeka !

Agung MSG – 0813 2045 5598 (WA/Telegram/Call)