Saat kita terus bergantung kepada beras, pada saat itu pola konsumsi masyarakat akan semakin memburuk, konsep keberagaman pangan (sebagai produk pangan pengganti beras) dilupakan, impor gandum jadi terabaikan, sumber energi terlupakan (biodiesel atau bahan baku bioenergi), dan anggaran pemerintah jadi beban masa depan.

Sagu, sebagai sebuah komoditas pangan subtitusi, jelas bisa dijadikan solusi krisis pangan Indonesia, Jangan lagi, sagu ini menjadi pangan alternatif yang terabaikan !

Tak hanya itu, pengembangan hulu-hilir sagu bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan, sumber bahan bakar bio-energi, pupuk hayati organik, hingga produk kimia farmasi, termasuk didalamnya sebagai sediaan kosmetika. Berbagai riset pun menermukan bahwa sagu adalah penghasil oksigen yang lebih besar dari tanaman lainnya.

Lebih jauh, bagian-bagian dari sagu pun bisa kita jadikan briket untuk bahan bangunan atau kerajinan anyaman seperti tikar, dan keranjang atau tikar, tali dan dinding rumah, lem dari getahnya, kayu bakar dan lauk-pauk yang diambi dari serangga yang hidup pada batang pohon sagu.

Malaysia saja yang melihat potensi sagu kita ini sudah ngiler. Jepang dan negara maju lain pun, juga sangat tertarik pada produk olahan pati sagu. Ya, kalau kita sungguh-sungguh mengelola sagu kita, potensi pengolahan sagu ini sangatlah luas, mulai tepung sagu hingga berbagai macam industri kuliner yang nikmat, bergizi dan khas asli cita rasa Indonesia. Belum lagi, makanan sagu ini diyakini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, antara lain menyehatkan pencernaah dan mencegah kanker usus, juga bisa mencegah ledakan penyakit diabetes. Satu diantara 10 penyakit di Indonesia yang berbiaya mahal dan memakan banyak korban.

Dengan luasnya potensi peruntukan dan manfaat sagu seperti itu, aduh… sayang sekali rasanya kalau sebaran sagu yang tersebar di hampir seluruh kawasan pantai di Indonesia. Kawasan hutan-hutan produksi di Indonesia bisa mensupport ini, meliputi Sumbar, Riau, Jambi, Riau, Sulawesi (Utara, Tengah, Tenggara, dan Selatan), Kalsel dan Kalbar, Maluku hingga di Papua, ini tak didayagunakan.

Sebagai bahan komoditi pangan, sagu bisa diolah menjadi pati kering yang mempunyai sumber karbohidrat tinggi, selain juga dapat didayagunakan sebagai bahan fiber.

Dukungan politik dari wakil rakyat perlu terus diwujudkan. Syukur alhamdulillah, pada hari Selasa, 11 April 2017, bertempat di Wisma Nusantara Lantai 11 di Komplek DPR RI, Masyarakat Sagu Indonesia (MASSI) berkumpul dan memetakan masalah dan mendiskusikan ajuan yang akan disampaikan ke Komisi IV DPR RI. Besar harapan kami, dukungan kebijakan politik hingga pada tataran yang lebih aplikatif dari pemerintah diharapkan dapat menjadikan sagu ini sebagai bagian komoditi pangan strategis nasional.

Master Plan persaguan Indonesia sudah saatnya dibuat. Rencana yang jelas, dan target yang progresif dan aplikatif sudah mendesaak untuk segera diwujudkan di lapangan. Bapenas, Departemem Kehutanan, Departemen Pertanian, Badan Restorasi Gambut, Lemhanas, BPPT, LIPI dan lembaga terkait lainnya, sudah saatnya duduk bersama dan mencari solusi terbaik dan aplikatif untuk masalah dan potensi prospektif sagu ini.

Kita malu, negara agraris yang subur makmur koq masih impor pangan, terutama beras. Tak hanya itu, limbah organik sagu pun, rasanya juga dibuang-buang secara percuma. Harta karun limbah sagu yang jutaan ton itu terbuang dengan percuma, padahal itu bisa dijadikan media tanam yang baik untuk pengembangan budidaya jamur, dan lain sebagainya.

Pengembangan ekonomi kerakyatan yang diusung oleh PT MaksiPlus Utama Indonesia, yang konsepnya dijadikan bahan mata kuliah pada Fakultas Ekonomi Pertanian, diakui Menko Kemaritiman dan Lemhanas, rasanya sih pas dan sejalan hal ini juga diterapkan pada kawasan sentra produksi sagu di berbagai daerah di Indonesia.

Sagu Indonesiaku, please… jangan dilupakan… Inilah harta karun potensi agrikultur di depan mata yang dari tahun ke tahun terlupakan. Sagu, jangan hanya jadi makanan pokok andalam orang Maluku, atau pun menjadi kunci kesejahteraan masyarakat Papua, tapi juga sudah saatnya menjadi andalan potensi prospektif agrikultur pangan Indonesia !

Solusinya, keterlibatan dan partisipasi masyarakat itu mutlak dalam mewujudkan road map masyarakat sagu Indonesia dan industri pengolahan sagu di seluruh wilayah Indonesia.

Dan disinilah peran pupuk hayati organik lengkap dibutuhkan. Intensifikasi dan kualitas produksi sagu, bisa kita tingkatkan secara signifikan dengan kehadiran pupuk hayati organik MaxiGrow MG1 yang dahsyat.

Informasi lebih lengkap mengenai Gerakan Ekonomi Kerakyatan MaksiPlut yang sudah bergulir dari Aceh hingga tanah Papua, silakan bisa dilihat di www.maxigrowindonesia.com. Sebuah gerakan yang terus mengembangan asset nyata masyarakat petani Indonesia. Lebih jauh, kehadiran Pupuk Hayati Organik Lengkap MaxiGrow MG1 diharapkan bisa membantu memberikan kontribusi nyata untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan energi Indonesia.