Budidaya lele itu sungguh menggoda, meski sebenarnya bukan yang utama.

Lho, koq bukan yang utama ? Ya, karena bisnis sebenarnya dari PT MaksiPlus dengan kedahsyatan MaxiGrow-nya menurut saya adalah Food Agriculture yang senilai Rp 6000 triliun itu. Jadi boleh dibilang, bisnis lele itu meski kini jadi fenomena dimana-mana dan menggoda banyak kalangan, hanyalah sebuah “cicit” bisnis dari “cucu” bisnis budidaya ikan.

Ya, tak bisa dipungkiri. Bisnis lele itu sungguh menggoda. Kalau punya 1, 2, 3 hingga 5 kolam itu bisa untuk menopang kehidupan rumah tangga.

Kalau untuk usaha, cukup punya 6 – 8 kolam. Untuk bisnis 9 kolam keatas. Nah, kalau sudah punya 9 kolam, kita bisa mengangkat satu karyawan untuk menanganinya. Satu karyawan ideal untuk menangani 9 – 10 kolam. Kalau sudah segini, boleh istri dilibatkan, tapi tetep istri juga harus digaji ya…. ha-ha-ha…

Pernah saat saya ketemu Trainer Lele Nasional MaksiPlus Pak Wasim di training Hydroponic di MaxiFarm Depok, beliau berujar bahwa : “Sebenarnya, bisnis MaxiGrow itu bukan di Lele. Lele hanya sebagai daya tarik saja. Bisnis MaxiGrow yg sebenarnya ada pada pertanian.”

Ya, lele adalah etalase atau show window dari bisnis Food AgriCulture MaksiPlus. Lele itu cicit dari buyut bisnis AgroBiz. Kebutuhannya kecil, dan lebih kecil lagi industri pohon kurma yg sekarang marak dimana-mana.

Jadi teman-teman, mari kita lihat bisnis MaxiGrow ini dari prinsip pareto, bahwa 80% keuntungan kita itu diperoleh dari target 20% konsumen loyal di dunia pertanian.

Belum lagi pada lahan perkebunan (sawit, kopi, teh, gaharu, jati, dll), hortikultura, peternakan (sapi, ayam, domba, itik) dan perikanan non lele. Sungguh besar pasarnya. Potensi nilai bisnisnya di Indonesia itu Rp 6000 triliun, dan kebutuhan pupuk setahun di Indonesia Rp 140 triliun, yg baru terpenuhi 60% nya saja sekarang ini. Sisanya, kita yg mengisi.

Bahkan bbrp bulan ke belakang Menteri Pertanian sudah menginstruksikan pentingnya pupuk organik bagi peningkatan pertanian Indonesia. Pupuk anorganik selama 40 tahun lebih tak signifikan bagi perbaikan nasib dan kesejahteraan petani kita.

Nah disini, kita lain. Kita bentuk team yg solid, ada kegiatan nyatanya dan ada duitnya. Gapoktan relatif gagal, karena kegiatannya ada, komunitasnya ada, tapi duitnya tak ada.

Jadi kalau kita ingin maju,

  1. Komunitasnya solid dan kuat, WAG (WhatsApp Group), temu darat, diskusi kelompok, dll.
  1. Kegiatannya ada dan nyata antara lain dgn sosialisasi pupuk hayati lengkap MaxiGrow, pelatihan Lele BioMaksi, Pensiunpreneur, kuliah umum, New Member Orientation, DLL
  1. Ada apresiasi finansialnya, ada duitnya. Bonusnya cukup gede, dan sangat apresiatif !

Nah, meski duitnya gede, jangan please jangan fokus ke duit. Fokuslah ke visi misi kita semula untuk mensejahterakan petani Indonesia agar mereka juga kita punya kedaulatan pangan yg kuat dan berwibawa.

Ya, tebar manfaat dan raihlah ridho-NYA… Insya Allah, rezeki akan mengalir sendiri dari arah yg tidak disangka-sangka. Dan bukankah sebaik-baik manusia itu yg paling banyak manfaatnya buat sesama ?

Aamiin yra