Banyak orang yang pesimis dengan pertanian Indonesia. Katanya, petani sering mengeluhkan untuk kesulitan menjual hasil panen. Karena management marketing tidak dimiliki para petani. Makanya mereka sering dipermainkan soal harga.

Seorang petani asal Jawa Timur pernah curhat pribadi ke saya. Katanya, “Saya melihat keprihatinan para petani dimanapun berada, karena saya tumbuh besar dari keluarga petani. Dan sekarang mereka sedang mengalami patah semangat. Pernah saya bertemu dengan petani yg memiliki sejuta pengalaman dan mereka pupus dengan mengeluarkan kalimat, kalau cuma menanam dan menghasilkan kualitas baik kami masih mampu”.

“Tapi soal harga jual kami seperti direndahkan secara harga diri. Dan lambat laun tanah agraris berubah menjadi pemukiman dan lahan kosong tidak terurus. Mereka lebih baik lari kekota besat menjadi tukang dan kuli, atau menjadi TKI ke luar negri. Sungguh memprihatinkan bangsa ini”, katanya panjang lebar dan penuh keprihatinan.

Namun mari kita dudukkan masalah ini pada proporsi yang benar. Jangan hanya mengeluh terus. Ngak habis-habisnya, dan ngak akan maju-maju kita. Lebih baik kita fokus pada pertanyaan pada “bagaimana solusinya”, “langkah strategis dan dirasakan langsung oleh petani apa yang harus dilakukan ?”

Setahu saya, hasil panen yg sulit dijual dgn harga yg pantas itu bukan hanya lele. Tapi komoditi-komoditi lain pun kesulitan, masalah dan tantangannya relatif sama.

Kenapa ?

Karen kita tidak bersatu. Tidak berkomunitas. Jadi yg ambil keuntungan ya para rentenir, pengijon dan tengkulak. Jangankan kita yg mau atur, wong pemerintah aja yg punya dana besar, jaringan, aparat dan segala macam saja tak bisa handle, dan relatif lebih dari 40 tahun tak ada perbaikan nasib yg berarti di tingkat petani.

Dari dulu, harganya sama di kedua ujung jalur distribusi pangan di petani dan konsumen. Petani jual dgn harga yg sangat murah dan konsumen beli dgn harga yg sangat tinggi.

Kangkung organik di tingkat petani hanya dijual Rp 15 rb dan konsumen beli di pasar modern Rp 60 rb. Petani tetap susah, nasibnya begitu2 saja dan konsumen ngeluh terus : “Apa pun semua skrg mahal2 !”. Enak di jaman dulu mendingan…

So, yg tetap untung, happy dan kaya sama : tengkulak. Ini terjadi karena rantai distribusi pangan dari petani ke konsumen itu sampai mencapai 6 – 8 titik rantai distribusi. Boros, besar dan panjang.

Lalu solusinya gimana ?

Rantai hrs diputus. Kita harus bersatu. MaksiFresh didirikan, Insya Allah akan dibuka 7500 toko. Petani akan dibayar & dibeli harganya dengan harga yg pantas dan konsumen akan mendapatkan harga yg jauh lebih murah.

Toko MaxiFresh sudah ada di Cibubur. Sebentar lagi akan dibuka di Bali, Surabaya, Makassar, Medan dan satu lagi saya lupa, dan terus akan digulirkan ke kota dan kabupaten lainnya.

Untuk mendukung ketersediaan komoditi sepanjang tahun dan menjamin harga di tingkat petani terjaga, PT MaksiPlus Utama Indonesia tengah melakukan uji kelayakan untuk  membangun cold storage raksasa di beberapa daerah. Cold storage raksasa didirikan untuk memastikan penampungan hasil panen dan ketersediaan produk sepanjang tahun sdh jadi blueprint PT MaksiPlus. Dalam waktu dekat di pulau Jawa akan dibangun di 4 titik. Smg semua on track dan lancar jaya….

Semua untung. Semua dibantu disalurkan hasil panennya. Dan itu hrs kita perjuangkan bersama di komunitas. Jangan mengandalkan pemerintah.

Konsep “Bulog Swasta” ini diakui Prof Gunawan, diterima Menko Kemaritiman (perikanan) dan Lemhanas (untuk kedaulatan pangan).

Lebih 10.000 Agent MaxiGrow menikmati hasilnya. Lebih dari 55 kota sudah kita “duduki” (sebagian tercatat di www.maxigrowindonesia).

Jadi saya sangat yakin seyaqin-yaqinnya, gerakan ekonomi rakyat MaksiPlus akan tumbuh pesat dan eksponensial.

Syukur Alhamdulillah, www.maxigrowindonesia.com dlm waktu yg tak lama lagi akan buka 4 Warehouse setelah buka Warehouse di Cianjur, Warehouse Dharmasraya (www.distributormaxigrow.com) dan Warehouse Solok.

Diskusi ini akan lebih lengkap dikupas Insya Allah ama Pak Amal Alghozali, tgl 25/02/17 di Sukabumi yg Insya Allah juga dihadiri oleh Walikota dan Bupati Sukabumi.

Bersatu kita teguh, bersama kita lancar jaya, bersinergi kita lampaui prestasi demi prestasi.

Menebar manfaat, berharap barokah. Dan tetaplah menjadi Pejuang Kedaulatan Pangan Indonesia.