Teman-teman, please jangan pernah bertani dengan cara gadai sebelum memahami hukum gadai secara lengkap untuk lahan pertanian. Bertani dengan cara gadai bisa jadi itu tidak akan berhasil, tidak akan berkah, atau mungkin bisa mencelakakan diri kita dan keluarga kita. Keluarga bisa jadi sumber masalah hanya karena kita punya usaha pertanian karena gadai.

Untuk itu yuk kita belajar dulu dari ahlinya, Dr. Ahmad Zain An Najah, MA sebagaimana yang saya ringkas dari sumber  www.ahmadzain.com.

Gadai atau Ar-Rahn itu berarti Al-tsubut  ( tetap ) dan Al-habs ( tahanan ) bisa diartikan sebagai pinjam meminjam uang dengan menyerahkan barang dan dengan batas (bila telah sampai waktunya tidak ditebus, barang tersebut menjadi hak orang yang memberi pinjaman ). Gadai juga berarti menjadikan barang sebagai jaminan dari hutang, dan sebagai pengganti jika hutang tersebut tidak bisa dibayar.

Gadai itu sendiri dibolehkan , baik pada waktu tidak bepergian dan waktu bepergian, baik ada penulisnya atau tidak ada, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah  saw. yang menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi di Madinah. Tapi itu pun Rasulullah lakukan hanya untuk kebutuhan darurat  : untuk makan, dimana nilai jaminannya jauh lebih besar.

Lalu, bahaimana hukum menggunakan barang gadaian ?

Jika penerima gadai ( murtahin ) menggunakan barang gadaian tersebut tanpa imbalan standar, maka hal itu diharamkan karena termasuk dalam katagori riba. Ya jika pemilik barang gadai (ar rahin )  mengijinkan bagi pemegang gadai (murtahin) untuk memanfaatkan barang gadai tersebut  tanpa ada imbalan, sedang ar rahin berhutang kepada  al murtahin, maka hal ini tidak boleh, karena hutang yang memberikan manfaat bagi yang memberikan utang, sehingga masuk dalam katagori riba .

Kemungkinan lain, jika Pemegang Gadai memanfaatkan barang gadai tadi dengan imbalan yang standar, maka mayoritas ulama tidak membolehkannya

Lalu bagaimana jika barang gadai tersebut membutuhkan biaya perawatan ?

Maka biayanya ditanggung oleh pemilik gadai tersebut. Jika pegadai tidak memberikan biaya perawatan, maka penerima gadai yang mengeluarkan biaya perawatan, tetapi dia dibolehkan untuk menaikinya sesuai dengan biaya yang dikeluarkannya.

Ringkas kata, tidak boleh pemegang gadai memanfaatkan barang gadaian seperti sawah, kendaraan dan lain-lain, dalam bentuk apapun juga walaupun sudah diijinkan pemiliknya, karena hal itu termasuk riba yang diharamkan dalam Islam. Kecuali jika barang gadaian tersebut perlu biaya perawatan sedang pemiliknya tidak mau mengeluarkan biaya perawatan, sehingga biayanya  dibebankan kepada pemegang gadai. Dalam keadaan seperti ini, menurut sebagian kecil ulama, dibolehkan pemegang gadai memanfaatkan barang gadaian tersebut sebesar biaya perawatan yang dikeluarkan. Tetapi mayoritas ulama tetap mengharamkannya secara mutlak.

So, masihkah kita berani bertani dengan cara gadai sementara kehidupan akhirat kita gadaikan ?