Sungguh saya prihatin, makin kesini makin banyak keluhan kepada saya dan team dari para pemilik kolam yang merasa pusing, gagal, atau merasa tertipu. Ada yang 10 kolam, 20 kolam, 24 kolam, 60 kolam, hingga yang 200 kolam.

Penyebabnya sama :

  1. Diiming-imingi cerita yang bombastis dan analisa usaha yang kemilau.
  1. Menjual “reputasi” sudah buka sekian kolam disana-sini, namun yang bersangkutan justru merasa tidak terbantu.
  1. Tidak adanya dasar teori yang kuat, ilmiah, terukur dan sistematis untuk budidaya lele organik yang sekarang lagi booming ini.
  1. Trainer bukan orang yang diakui oleh komunitas atau perusahaan resmi yang ada di Indonesia, namun hanya ngaku-ngaku saja dan banyak mengeksploitasi di sasaran yang lemah : medsos, terutama Facebook.
  1. Dan yang paling sering, yaitu tidak adanya bimbingan harian dari orang yang mengajak untuk berbudidaya ini. Padahal, bimbingan harian hingga panen, adalah kunci keberhasilan para pembudidaya pemula. Mereka butuh dibimbing degan ekstra sabar, langkah demi langkah, apa yang harus dilakukan hari ini, pada kondisi sekarang ini, dan seterusnya.

Selain penyebab diatas, ada juga fenomena yang kepedean untuk bisa belajar sendiri, secara mandiri, dengan mengandalkan buku-buku, medsos, grup wa, dan searching di dunia maya. Saya sebut fenomena ini sebagai fenomena dari “ilmu” COMOTOLOGI. Comot materi dan SOP-nya dari sana sini. Saat ada masalah, 5 bulan ngak panen-panen, boros probiotiknya, bau airnya, menggantung lelenya, dan banyak yang masuk UGD dan banyak ditemukan “jasad” lele, barulah mereka kontak kami. Ini bagus dan mending, daripada yang terus lanjut dan gengsi untuk tetap menyelesaikan masalahnya sendiri.

Yang mengkhawatirkan, selain yang praktek dengan Comotologi, ada juga yang praktek dengan “Ilmu” Sakarepologi. Ya, sakarep-karep. Semaunya. Yang ia pikir, ini kayaknya bagus, itu kayaknya pantas dan masuk akal, dll dslb. Tidak berdasarkan bukti empiris dan teori yang sesuai.

Lain halnya yang ikut aliran Sesatologi. Ini lebih parah lagi. Inginya bifolok, prakteknya sistem perputaran air (RAS / Recirculation Aquaponic System, dan udah publish besar-besaran di medsos. Namun nyatanya itu hanya pencitraan saja. Hanya menunjukkan sisi-sisi yang wah saja, namun saat ditanyakan dengan “7 Indikator Keberhasilan Budidaya Ikan”, baru deh ketahuan…. Itu semua ngak bagus dan ngak signifikan. Kita kan mau usaha dan ada nilai bisnisnya, bukan gaya-gayaan kan ?

Karena orang-orang yang terkena “ilmu” Comotologi ini, juga yang ikut “gerakan” Sakarepologi, plus yang nyata-nyata Sesatologi ini, yang pada akhirnya meng-claim budidaya lele itu susah. Katanya, budidaya lele organik itu susah, ribet, dan repot.

Padahal kalau saja mereka ikut Program Budidaya Lele Organik Modern dengan E-Flock Culture System sejak awal, Insya Allah keluhan-keluahan itu dapat kita atasi dengan mudah, cepat dan sederhana. Karenaya, tak heran dalam waktu yang begitu singkat sekaan sudah terdaftar banyak peserta dari 64 kota di Indonesia, dan peserta khusus dari Thailand dan Arab Saudi.

Tercatat, inilah daftar kota asal “mahasiswa” yang tergabung dalam Kampus Digital E-FLOCK hingga 07 Nov 2018 :

Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Asahan, ARAB SAUDI, Balikpapan, Bandar Lampung, Bandung, Bandung Barat, Banyumas, Banyuwangi, Bekasi, Brebes, Bogor, Bontang, Cianjur, Cilacap, Cilegon, Cirebon, Depok, Denpasar, Garut, Grobogan, Jakarta, Jember, Jombang, Karawang, Kedir, Kuningan, Lhokseumawe, Madiun, Malang, Manado, Medan, Ogan Komering Ulu – Sumsel, Ogan Komering Ulu Timur, Palembang, Palopo, Pekanbaru, Pematangsiantar, Pesawaran, Ponorogo, Pontianak, Pringsewu, Purwakarta, Purwokerto, Rokan Hilir, Salatiga, Sanggau Kalbar, Semarang, Siak, Sidoarjo, Simalungun, Solo, Subang, Sukabumi, Sumedang, Surabaya, Tabanan, Tangerang, Tangerang Selatan, Tegal, THAILAND, Ungaran, Yogyakarta

Semoga “gerakan leleologi” ini jadi semakin bagus buat kemandirian dan ketahanan pangan bidang perikanan di Indonesia. Aamiin yra…