Ampas sagu di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Meranti, selama ini selalu dibuang ke sungai. Ia dianggap sebagai sesuatu yang tak terpakai, sisa, ampas, atau sampah yang bisa jadi limbah dan mengotori serta mencemari lingkungan. Ada jutaan ton limbah sagu dari Kabupate Meranti yang dibuang begitu saja.

“Padahal ampas sagu itu harta karun kita. Kalau di Meranti malah dibuang kesungai. Limbah cairnya, limbah pucuk batang sagunya, limbah kulit sagunya serta limbah serat dan serbuk sagunya, semua itu punya nilai ekonomi tinggi,” sesal Pak Dedy Suyerman penggiat jamur yang juga sebagai praktisi yang menjadi narasumber di Badan Restorasi Gambut (BRG).

Selain di BRG, Pak Dedy yang sudah 15 tahun lebih menjadi praktisi dan peneliti budidaya jamur, kini mulai beralih pada kebutuhan dan tantangan yang lebih besar. Yaitu pengembangan agribisis berbasis limbah industri dan limbah organik. Karenanya tidaklah mengherankan bila Pak Dedy juga sangat sibuk selama ini mengisi acara sebagai narasumber di berbagai worksop, seminar dan training budidaya di Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI; Departemen Pertanin; BPPT, beberapa Pemda Propinsi, hingga Masyarakat Sagu Indonesia.

Bila kita bicara mengenai potensi dan pengembangan agribisnis berbasis limbah organik, dan limbah sagu pada khususnya, maka kita bisa merasakan betapa gairah, semangat dan  visi yang besar dari Pak Dedy. “Limbah sagu itu harus dimanfaatkan. Ini harus saya sosialisasikan pemanfaatan ini ke masyarakat luas”, jelasnya.

“Di tujuh propinsi itu kan Pak Dedy ?”, kata saya. “Bukan Pak Agung, saya ama team ingin mengembangkannya di 18 Provinsi penghasil sagu di Indonesia, dan juga pada propinsi yang masih punya lahan gambut. Namun pada tahap awal saya masih fokus untuk diaplikasikan pada 700 desa”, tegasnya.

Bila kita jeli, ampas sagu itu bisa dijadikan sebagai media tanam untuk budidaya jamur. Dan lebih jauh bila kita serius mengelolanya, maka pengembangan budidaya sagu ini tentu saja akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani sagu.

Lebih jauh, sahabat online saya yang beberapa bulan ini intens kontak jarak jauh, sudah menyampaikan beberapa kali visi ekonomi kerakyatannya di berbagai kesempatan.

Bila Pemerintah Provinsi Riau ini serius menggeluti pengembangan ampas sagu yang luar biasa banyak ini, sangat terbuka luas dan mudah bagi Provinsi Riau khususnya Meranti bisa menjadi produsen jamur didunia.

“Saya satu visi ama Pak Agung. Saya setuju dengan modul yang Pak Agung tulis dan dikirimkan ke rumah saya. Kita bisa kuasai pangan dunia. Orang boleh buat teknologi tinggi, tapi mereka kan butuh makan. Dan yang luarbiasanya, ada satu kekuatan kunci Indonesia yang tidak dimiliki Jepang bahkan Amerika. Kita berada di iklim tropis, yang sangat bagus untuk pengembangan jamur dunia dan teknologi fermentasi dunia ! Saya sudah lama menelitinya, dan 5 profesor pun mengakuinya”, katanya berapi-api.

Dalam kesempatan lain, ia pun pernah memaparkan bahwa limbah cair sagu bisa dimanfaatkan sebagai biogas, dan pupuk cair organik. Limbah kulit sagu bisa dimanfaatkan untuk arang dan bahan bakar serta limbah pucuk batang sagu mempunyai potensi sebagai media budidaya ulat sagu yang memiliki protein tinggi.

Dedy juga menambahkan, untuk limbah serat dan serbuk sagu bisa dijadikan budidaya lalat BSF yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan ternak dan media tanam jamur merang yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Jamur merang yang media tanamnya dari ampas sagu akan bermanfaat dari segi ekonomis dan gizinya, karena memiliki 28,5 persen protein dan 0,3 persen lemak, sedangkan daging sapi memiliki 21 persen protein dan 5,5 persen lemak. Nilai protein yang tinggi dari jamur merang bisa digunakan sebagai substitusi daging sapi. Jamur merang juga memiliki waktu panen yang cepat, dalam 10 hari tebar bibit, jamur sudah bisa dipanen.

Selanjutnya dari media tanaman jamur merang tadi juga bisa dijadikan pakan ternak, pupuk organik, dan budidaya cacing sebagai penyedia protein bagi pakan ternak itik dan sapi karena memiliki kandungan protein 76%.

Lebih lanjut, Dedy juga menyebutkan fakta Biomassa pohon sagu dalam industri pati adalah limbah dengan perbandingan 70:30. Seiring menipisnya bahan bakar Fosil, potensi ini dapat dimanfaatkan untuk dijadikan bahan bakar nabati. Ampas Sagu dapat dijadikan biomassa dan pati sagu dengan kadar karbohidrat tinggi bisa dijadikan biofuel-biodiesel.

“Jika pengelolaan limbah ini dilakukan oleh 18 provinsi penghasil sagu, maka Indonesia akan menjadi eksportir jamur, eksportir pakan ternak, eksportir tepung cacing, eksportir pupuk organik, dan menjadi negara pertanian organik terbesar di dunia,” tegasnya.

“Dari berbagai tulisan yang saya ajukan ke berbagai kalangan dan pemerintah, saya tuliskan disana Mikroorganisme yang ada dalam MaxiGrow bisa diandalkan untuk mewujudkan proyek-proyek besar itu”, katanya penuh rasa syukur.

Dan saya pun doakan buat Pak Dedi, semoga Pak Dedi diberi kesehatan dan kesempatan untuk mewujudkan semua ini, untuk Indonesia kita.

Aamiin ya robbal alamin…