Amal Alghozali terlahir dari seorang wartawan, kemudian jatuh-bangun jadi seorang pengusaha. Dan ia pun menggagas Gerakan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Jaringan dan Sekolah Tani Urban MaxiFarm. Seluruh visinya ia wujudkan melalui berbagai program nyata dari perusahaan MaksiPlus yang langsung dirasakan rakyat kecil di segenap pelosok pedesaan.

Disebut sebagai sebuah gerakan, karena harus dilakukan bersama dan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan yang bisa menyentuh langsung petani kecil di lapangan. Dan agar gerakan ekonomi kerakyatan ini tidak terhenti di tataran ideologi, seminar-seminar, maka kita harus lebih maju lagi. Kita harus tahu bagaimana caranya dan telaten melaksanakannya.

Banyak hal detail, rinci dan hal kecil-kecil yang teknis di lapangan, dan itulah tantangan yang sebenarnya gerakan ekonomi rakyat ini. Apalagi bila itu berhubungan langsung dengan masyarakat kecil, penghasilannya rendah, keuangannya terbatas, perlu banyak edukasi, yang tentu saja semua itu butuh kesabaran.Dan karena itu MaksiPlus lahir.

Solusi untuk peningkatan kesejahteraan petani ini kita harus dengan sistem berjaringan dan berdagang secara berkelompok agar mudah, ringan dan efektif. Kemudian dalam kelompok itu juga harus diajarkan segala hal yang fokus dan tempatnya di pedesaan. Karena kalau di perkotaan, orang kota sudah melek informasi.

Masalah utama pertanian misalnya, itu antara lain ada pada bagaimana kita mengetahui periode tanam dan keberanian untuk memangkas jenjang distribusi pangan yang bisa memakan 6 hingga 8 rantai distribusi.

Dengan adanya toko MaxiFresh yang percontohannya ada di Cibubur, rantai ditribusi ini bisa kita potong sehingga nantinya petani dan masyarakat akan diuntungkan. Kekuatan perusahaan dan gerakan yang digagas MaksiPlus itu sendiri ada pada forum pertemuan. Mulai dari training untuk mengubah cara berpikir, trainng teknik budidaya (pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan), hingga training keuangan bisnis dan analisa usahanya.

Disisi lain, sekarang ini sedang tren anak-anak muda kembali ke desa dan menggeluti pertanian hingga hortikultura. MaksiPlus pun sudah membuka Sekolah Tani Urban di Cibubur, Sidoarjo, Surabaya, Malang dan Bali. Peserta atau siswanya harus magang 1 musim untuk mempelajari dan mengetahui permasalahan hulu hingga hilir masalah pertanian, manajemen bisnis, risiko-risiko usaha, dan lain-lain. Kemudian disarankan lulusannya nanti buka lahan sendiri, termasuk pinjam dari lahan-lahan pengembang.

Sementara itu, bila kita bicara masalah swasembada pangan itu banyak sekali kendalanya. Kendala utamanya itu karena program swasembada pangan itu lebih menitikberatkan pada pendekatan proyek,. Karena pendekatannya proyek, biasanya program intinya sendiri itu sedikit sekali tersentuh sehingga pada prakteknya lebih menitikberatkan pada aspek formalitas.

Karenanya, datanya juga harus bener, luas lahannya berapa dan produktivitasnya berapa. Namun pendekatan yang paling tepat itu adalah hitung saja berapa jumlah benih yang keluar, dan bukan dari luas lahannya berapa.