Sudah begitu banyak training budidaya lele di Indonesia dilaksanakan di berbagai daerah oleh berbagai pihak. Tercatat setidaknya pernah dilaksanakan di Bali, Banyuwangi, Tulungagung, Surabaya, Garut, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Karawang, Bekasi, Jakarta, Tangerang Selatan, Palangkaraya, Jambi, Pekanbaru, Solok hingga Medan.

Penyelenggaranya pun beragam. Ada yang mengaku konsultan, praktisi pembudidaya lele, maupun trainer budidaya lele. Baik yang dilaksanakan satu hari full day training, maupun yang dilaksanakan hingga 4 hari training. Semuanya sama, ingin pesertanya bisa langsung mengaplikasikan dan bisa joss berhasi langsung di lapangan.

Namun, kenyataannya : kenapa banyak yang tak jalan, dijual murah kolamnya karena tak juga bisa menjalankan, mangkrak puluhan kolam karena sudah 5 bulan juga menghasilkan panen seperti yang dijanjikan, dan kapok menggelutinya ?

Nah fenomena euforia ingin berlele-ria ini yang saya cermati sejak 1,5 tahun yang lalu. Hasilnya, semua sama.

  1. 80 – 88% ini masalah mindset dari si pembudidaya itu sendiri. Mereka ingin belajar training langsung satu hari, langsung praktek dan sukses sudah didepan mata.
  1. Trainernya tidak qualified. Mindset para peserta tidak dibangun dan diset up secara kuat dan sistemik oleh trainernya. Mereka hanya jualan trainng, jualan modul, berharap ada peserta yang mau buka 10 kolam lebih bahkan ratusan kolam, nanti akan ada pendampingan dengan janji-janji surga dan iming-iming keuntungan yang ruar biasa, dan berbagai kemudahan lainnya. Trainernya pun tak menguasai sistem air dan karakter ikan, teruatama pada aplikasi keseimbangan air kolam, khususnya aspek keseimbangan C/N Ratio.
  1. Sistem Pembelajaran yang diadakan tidaklah efektif. Mulai materi yang asal-asalan tak lengkap, tidak adanya pendampingan dari trainer, hingga kurangnya tools pembelajaran yang mendukung setelah belajar 1 hari training (full day training) atau lebih.

Nah atas kejadian “kegagalan yang mewabah” ini, maka E-Flock Culture System (FCS) terlahir. Sebuah pembelajaran E-Biomaksi yang sudah berhasil bagus, dan kini kami upgrade dengan nama E-Flock Culture.

Sistem ini kami buat agar para peserta awam pun bisa secara online – sistem pembelajaran jarak jauh – bisa mengikutinya dengan mudah. Karena peserta akan dibekali dengan :

  1. Sistem pembelajaran dengan metodologi Pictorial Learning : 474 slide bergambar. Dengan belajar melalui gambar, jelas lebih mudah, lebih sederhana dan lebih efektif untuk difahami dan dipraktekkan. Materi ini sangatlah lengkap mulai dari pemilihan lokasi ideal, set up kolam, penanganan hama dan penyakit, hingga pemasaran.
  1. Video Tutorial : 35 video bimbingan teknis Budidaya Lele Organik Sistem Flock Culture dengan Teknologi Maxigrow.
  1. Berbagai studi kasus baik yang salah, gagal, keliru dan sesat, serta yang sudah berhasil, sehingga kita mendapat informasi dan materi pembelajaran yang utuh, lengkap dan mudah diaplikasikan di lapangan.
  1. Bimbingan online dalam grup Telegram E-Floc Culture : Learn, Act and Share langsung oleh trainer nasional dan pakar lele organik dari Team Maxigrow Indonesia. Waktu pembelajaran sepenuhnya diserahkan pada keleluasaan para peserta training onlinenya. Bimbingan online ini dilakukan hingga peserta (kami sebuh sebagai mahasiswa) panen, sukses dan mandiri, seumur hidup. Target kami bukan peserta bisa, namun peserta bisa mengajak dan mengajarkan ini ke teman, karib dan saudranya yang berminat berbudidaya lele.
  1. CD Maxigrow
  1. Buku Pintar Maxigrow, Agenda dan Brosur
  1. Probiotik Premium Maxigrow MG1
  1. Akses kepada komunitas : pembuat kolam, pembenih / pembibit, para praktisi sukses dan Mahasiswa E-Flock yang sudah berhasil, hingga akses pemasaran.

Dan inilah beberapa Mahasiswa E-Flock Culture yang memberikan kesaksian dan apresiasinya, setelah mengikuti pembelajaran kami. Semoga informasi ini bermanfaat adanya.

Masih penasaran, masih ada yang ingin ditanyakan ?

Silakan kontak saja ke saya, Agung MSG melalui WhatsApp / Telegram di : 0813 2045 5598.

Salam hangat dari hati, Agung MSG