Bagus tidaknya produktivitas peternakan ayam pedaging broiler, bisa kita lihat dari sejumlah indicator yang kita gunakan. Nilai indicator ini tentu saja banyak dipengaruhi dari persiapan kandang, pencahayaan, suhu dan kelembaban ruang, bibit ayam, brooding, pakan, biosekuriti (biosecurity), air, pencegahan penyakit, dan hal lainnya.

Lebih jelas, mari kita lihat sejumlah indicator yang biasa digunakan para peternak :

#1. BERAT BADAN

Berat badan selama satu periode pemeliharaan broiler (lebih kurang 34 – 35 hari), yaitu bagaimana kita mendapatkan standar berat badan lebih cepat daripada waktu yang ditentukan sehingga bisa panen lebih awal. Tidaklah mengherankan bila satu hari saja lebih cepat kali sekian ribu ekor yang dipelihara, maka penghematan bisa bernilai cukup signifikan

#2. FCR (Feed Conversion Ratio)

FCR adalah jumlah berat pakan yang diberikan untuk menghasilkan satu kilogram berat hidup broiler. Karenanya, semakin kecil FCR semakin baik hasilnya. FCR ini mengindikasikan penyerapan yang lebih baik dan konversi pakan menjadi daging yang lebih optimal.

Secara ekonomi FCR ini harus dihitung betul, karena 60 – 70% biaya pemeliharaan broiler itu diserap dari pakan. Sehingga semakin kecil FCR semakin untung bagi peternak. Sebaliknya jumlah pakan yang lebih banyak akan otomatis mengurangi keuntungan.

Perhitungan standar FCR sendiri beragam antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Karenanya, peternak biasanya harus mendapatkan FCR lebih kecil dari yang ditentukan oleh perusahaan, agar ada bonus FCR dari perusahaan bila peternak bekerja sama dengan perusahaan pada sistem plasma.

Perbedaan ini biasa disebut sebagai Direrensial (Diff), yaitu Diff = FCR aktual – FCR standar.

Diff yang bernilai minus (-) tentu saja berarti baik karena menunjukkan bahwa FCR aktual di peternakan lebih kecil daripada FCR standar perusahaan.

#3. PERSENTASE DEPLESI POPULASI (D)

Deplesi populasi itu artinya penyusutan jumlah ayam baik karena kematian maupun karena afkir ayam (culling). Kematian bisa disebabkan karena sakit atau karena kondisi lingkungan yang tidak bersahabat. Sementara pengafkiran bisasanya diputusakan karena pertimbangan resiko dan ekonomi, baik karena penyakit, gangguan pertumbuhan, atau pun karena potensi kemungkinan penularan pada ayam yang lain.

Ayam yang sakit biasanya mendekati umur panen dan diobati tentu saja harus dipertimbangan secara ekonomi, karena pengeluaran untuk obat ini pada akhirnya akan berpenegaruh pada keuntungan akhir peternak. Karenanya, tidaklah mengherankan bila ada yang berpendapat daripada keuntungan berkurang karena memberikan pengobatan, lebih baik aya diafkir lebih awal.

Rumus tingkat deplesi (D) itu =

  • ((Jumlah ayam mati + afkir) / pupulasi awal) x 100%.

Bisa juga dihitung dengan rumus sederhana =

  • ((Jumlah Populasi Awal – Jumlah Populasi Panen) / Jumlah Polulasi Awal) x 100%.
  • Persentase deplesi yang baik maksimal ±5%.

#4. RATA-RATA UMUR PANEN (A/U)

Tidak jarang peternak karena alasan permintaan pasar dan pelanggan, pemenenan dilakukan beberapa kali dimana tiap2 pelanggan membutuhkan umur ayam berbeda. Atau bisa juga setengah memaksa membutuhkan pasokan segera, dan minta panen sebagian ke peternak.

Cara menghitungnya mudah saja.

Umur rata-rata panen = (Umur Panen x Jumlah Populasi) / Jumlah Populasi

A/ U = (∑(U x P))/Total Pupulasi Terpanen

Sebagai contoh, bila Pak Asep memanen umur 30 hari (2500 ekor), umur 33 hari (1000 ekor) dan umur 35 (1500 ekor) maka Umur Rata-Rata Panen = ((30x2500) + (33x1000) + (35x1500)) : 5000 = 32,1 har

#5. INDEKS PRESTASI (IP)

Indeks Prestasi merupakan indikator baik buruknya pengelolaan sebuah peternakan. IP yang semakin tinggi menunjukkan pengelolaan peternakan yang semakin baik.

Rumus IP:

IP = {(100 – Total % Deplesi) x Rerata Berat Badan x 100} lalu dibagi (FCR x Rerata Usia Panen)

Nilai IP sekarang ini seiring dengan perbaikan genetic broiler dengan pertumbuhan yang cepat kini paling tidak harus sudah di atas 300 (tergantung perusahaan pembuat standar masing-masing). Berikut contoh penghitungannya. Pada sistem plasma, IP ini juga akan memungkinkan peternak mendapat bonus IP dari perusahaan / kemitraan

Untuk mencapai itu semua, pilihlah suplemen probiotik peremium untuk peternakan ayam broiler Anda. Meskipun demikian, suplemen unggas Maxigrow ini juga sangat bagus digunakan pada semua jenis unggas ayam puyuh, petelur, ayam kampung, bebek, itik, hingga burung peliharaan.

#6. TAHAN PENYAKIT

Angka kematian yang tinggi dan apkir pada peternakan ayam karena sakit atau serangan mendadak hingga menimbulkan kematian, tentu saja sangat tidak diharapkan oleh peternak broiler. Namun dengan pemberian probiotik ayam broiler Maxigrow, hal ini bisa ditekan jauh lebih kecil lagi. Ini sudah teruji dan terbukti pada beberapa peternak ayam broiler.

Jumlah serangan penyakit dan pembelian obat-obatan untuk megatasi penyakit atau untuk mencegah penularan yang lebih luas, tentu saja ini pada akhirnya akan menggerus keuntungan yang akan diperoleh oleh peternak. Karenanya, berikan Maxigrow MG1 sejak sesuai SOP yang dibeikan.

#7. TIDAK MENIMBULKAN BAU PADA LINGKUNGAN

Peternakan ayam broiler yang baik dan ramah lingkungan, adalah peternakan yang kandangnya tidak menimbulkan bau dan limbahnya tidak mengotori pada lingkungan sekitar. Dengan pemberian dan  penyemprotan Maxigrow ke kandang ternak ayam broiler secara teratur, maka bau kandang bisa ditekan hingga 85 – 90% baunya hilang, karena diurai oleh mikroorganisme-mikroorganisme Maxigrow.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kontak saja Agung MSG – Warehouse Maxirgow Indonesia di : 0813 2045 5598.

Salam dahsyat !