Gerakan Ekonomi Kerakyatan secara sederhana adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat itu sendiri. Kegiatanya berupa usaha atau kegiatan ekonomi yang dilakukan rakyat kebanyakan secara swadaya atau kelompok kecil yang dipilih dengan cermat.

Mereka bisa diberi bantuan dan pelatihan untuk mengelola sumberdaya ekonomi yang ada di lingkungannya dengan berfokus pada peningkatan mutu dan kuantitas produksi, atau juga mengupayakan usaha ekonomi kreatif lainnya.

Hanya saja pada tataran pelaksanaannya di lapangan, seringkali saya menemukan gerakan ekonomi kerakyatan yang berupa bantuan dari pemerintah, BUMN, program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, atau program bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat dari yayasan social, lemah pada aspek fit and proper test-nya.

Beberapa penyebab yang paling sering terjadi yang saya amati antara lain :

  1. Tidak atau lemahnya memilih kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan. Seringkali saya melihat “yang penting ada program dan sudah diberikan, diliput pers dan mendapat publikasi awal yang luas dan besar”.
  1. Leader dari kelompok usaha yang diberi bantuan tidak disiapkan atau dididik dengan intensif. Lebh parah lagi, ada kelompok yang diberi bantuan memeggang prinsip “program ini menjadi tanggungjawab kita bersama”. Saya kira, menjadi tanggung jawab bersama itu justru tidak bertanggungjawab. Jadi, harus ada satu orang yang ditunjuk menjadi pemimpin di kelompok itu dengan kemampuan kepemimpinan yang memadai untuk usaha kelompok ekonomi mereka sendiri.
  1. Kelompok usaha yang diberi bantuan adalah kelompo yang besar dan tidak diberi pembagian tugas yang jelas. Bila ini terjadi, maka antar anggota kelompok saling mengandalkan satu sama lain.
  1. Kualitas training dan durasi training yang asal-asalan. Pernah saya menemukan kelompok institusi pendidikan mendapat bantuan 24 kolam diameter D3 yang konon katanya untuk budidaya lele bioflok hanya memegang SOP mulai pemeliharaan awal hingga panen 2 lembar kertas A4 saja ! Padahal di Maxigrow Indonesia, secara lengkap kami membutuhkan SOP 505 slides yang kami sampaikan dengan bahasa gambar (pictorial learning and smart art graphic) agar mudah difahami dan dijalankan meski ia orang awam.
  1. Tidak adanya pendampingan usaha dari trainer atau praktisi sukses yang berkualifikasi dan diakui secara luas. Bagaimana bisa jalan bila trainer atau coach-nya bukan orang yang berkompeten dan punya pengalaman nyata membangun usaha yang menjadi program CSR atau program pemberdayaan rakyat itu. Sering terjadi pula, coach-nya justru yang hanya mendampingi di awal-awal program saja, yang celakanya ini dilakukan justru oleh orang yang mengaku trainer, praktisi sukses atau orang yang menguasasi dan berpengalaman dalam CSR and Sustainability Management Specialist.

Membangun Ekonomi Kerakyatan jelas butuh kepekaan sosial dan kesabaran ekstra. Mereka harus diberdayakan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar dan membangun kesejahteraan keluarga tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.

Membangun Perekonomian Rakyat juga berarti juga harus membangun sistem ekonomi yang mandiri, terbuka, dan berkelanjutan. Karenanya, sudah sepantasnya kelompok yang dijadikan program bantuan diberi bantuan beruapa pengembangan akses kepada sumber daya ekonominya, diberdayakan kelompok dan manajemenya, diberi pendidikan dan mindset yang sesuai kearifan local di daerahnya, serta dukungan pemerintah daerah terhadap kelompok itu sendiri.

Ringkas cerita, membangun pusat perekonomian berbasis kerakyatan itu bisa dilakukan antara lain dengan membangun ekonomi rakyat melalui CSR dalam bentuk program yang nyata, langsung dan mengubah keadaan mereka sendiri. Penguatan ekonomi kerakyatan cara ini, menurut saya adalah Strategikan CSR Bagi Peningkatan Ekonomi Kerakyatan yang sederhana, mudah, aplikatif dan cepat terasa, setidaknya dalam waktu kurang dari 6 bulan.

Bentuk realnya, antara lain melalui Pusat Pembelajaran Budidaya Lele Organik Masyarakat Sistem “Flock Culture” dengan Teknologi Maxigrow.

Saat ini digulirkan, setidaknya ada 7 dampak positif dari pengembangan kemandirian berbasis komunitas, yaitu :

  1. Memenuhi tingkat konsumsi ikan & mensukseskan gerakan memasyarakatkan makan ikan.
  2. Kelompok Komunitas bisa mandiri memproduksi dan tercukupi kebutuhan gizi, berupa ikan pada komunitas.
  3. Salah satu materi kewirausahaan dan pembelajaran ekonomi
  4. Memberikan manfaat pembelajaran budidaya ikan kepada masyarakat sekitar
  5. Membuka lapangan pekerjaan & kemandirian ekonomi komunitas
  6. Peluang komunitas memberikan nilai tambah pasca produksi (membuka kuliner lele organik, jual lele olahan, eskpor, dll).
  7. Komunitas bisa menjadi pusat pemberdayaan gerakan ekonomi kerakyatan.

Untuk informasi lebih lengkap bagaimana menjalankan gerakan ekonomi kerakyatan melalui kelompok budidaya ikan ini agar sesuai yang kita harapkan, silakan kontak saja :

Agung MSG – Kota Baru Blok E-9 Cilaku Cianjur. HP : 0813 2045 5598 – www.maxigrowindonesia.com