lele-bio-flok

Budidaya lele sistem bioflok sejak awal tahun 2016 sudah naik daun. Banyak orang yang latah dan mau ikut hanya karena bisa memberikan hasil produksi hingga 105% hanya dalam waktu 3 bulan. Peluang menggiurkan itu tentu saja sangat menggoda. Apalagi budidaya ini sungguh hemat penggunaan airnya. Boleh dikatakan kebutuhan airnya sedikit bahkan bisa tanpa ganti air.

Selain itu, konsumsi pakannya sangat hemat (dengan FCR 0,7 – 0,9) dan padat tebar ikan lele yang tinggi, yaitu sekitar 2.500 ekor / m2. Plus juga menghemat lahan pemakaian yang terbatas. Jadi, orang kota pun dengan lahan yang sangat terbatas bisa membudidayakan lele dengan sistem bioflok ini.

Namun, sebelum kita memutuskan untuk mempelarai dan menggeluti budidaya lele sistem bio-flok, ada baiknya kita ketahui dulu beberapa hal berkait proses hulu-hilirnya.

  • Persiapan (pengadaan kolam, persiapan media air)
  • Pembenihan (termasuk pemilihan benih)
  • Pembesaran dan manajemen pakan
  • Bagaimana pengolahan dan pemasarannya
  • Sikap mental pembudidaya seperti apa yang harus disiapkan
  • Panen dan Peluang Pasar
  • Bagaimana pengelolaan usaha yang berkelanjutannya
  • Analisa usaha
  • Dan masalah teknis lain, yang senyatanya bisa kita tanyakan terlebih dahulu kepada ahlinya.

Oh ya, ada info terkait dengan TEROBOSAN BUDIDAYA LELE YANG FANTASTIS ini. Silakan klik link ini :

Bio Flok : Terobosan Budidaya Lele yang Fantastis yang Menjanjikan Keuntungan hingga 105%

Dan berikut, saya sertakan cuplikan berita dari REPUBLIKA.CO.ID, tentang Budidaya Lele Sistem Bioflok. Semoga bermanfaat :

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG — Guna mendukung program pemerintah memasyarakatkan gerakan makan ikan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong pondok pesantren agar bisa mandiri dengan budidaya ikan lele. Apalagi, budidaya ikan lele dengan sistem bioflok dinilai sangat mudah adan menjanjikan.

“Wilayah Jawa mulai dari Jatim sampai Jabar ini masih jauh tingkat konsumsi ikan. Jadi, kami nanti akan berikan bantuan budidaya lele sistem bioflok,” katanya saat menghadiri kegiatan gerakan memasyarakatkan makan ikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Jumat (18/11).

Dengan sistem bioflok, per meter persegi bisa menghasilkan ikan 1 ton. Dengan hasil yang cukup tinggi tersebut, ke depan diharapkan pondok pesantren bisa mandiri dan tercukupi kebutuhan gizi, berupa ikan pada para santri.

Sistem bioflok ini di nilai efektif, dan mampu mendongkrak produktivitas karena dalam kolam yang sempit dapat di produksi ikan lele yang lebih banyak, biaya produksi berkurang dan waktu yang relatif lebih singkat jika di bandingkan dengan budidaya secara konvensional.

Di Jatim, kata dia, akan ada dua pondok pesantren yang jadi lokasi peresmian, yaitu di PP Tebuireng, Kabupaten Jombang serta di Gontor, Ponorogo. Namun, ke depan akan dilakukan bertahap di pondok pesantren lainnya juga akan mendapatkan program tersebut.

“Setiap pesantren satu, dan akan kami ‘Launching dua di Jatim yaitu Gontor dan Tebuireng, untuk sistem lele peternaan dan kolam budidaya lainnya. Ini supaya, paling tidka makan ikan santri bisa setiap hari, dan tentunya jika besar bisa diekspor,” katanya.

Ia menyebut, ekspor ikan salah satunya ikan lele sangat besar. Pasar ekspor di antaranya ke singapura dan beberapa negara lainnya. Mereka menyukai ikan lele.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang KH Sholahudin Wahid mengaku, sangat senang dengan program tersebut. Ia berharap, program itu secepatnya direalisasikan. “Kami berharap segera mungkin kegiatan itu bisa direalisasikan, karena tentunya bisa memenuhi kebutuhan,” kata pria yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Sumber : http://www.republika.co.id/ – Jumat, 18 November 2016, 12:48 WIB