Teknologi Sistem Budidaya Ikan sekarang ini lagi berkembang pesat dan hangat-hangatnya di kalangan pembudidaya ikan dan para pecinta ikan.

Penerapan teknologi Red Water System (RWS) pada budidaya ikan lele, misalnya adalah modifikasi dari Natural Water System (NWS) dan Brow Water System (BWS/Bioflok). Di saat yang sama, sekarang ini juga sedang booming dan jadi trend Sistem RAS Aquaponic, yaitu budidaya lele dengan sistem RAS (Resirculating Aquaculture System) aquaponic.

Tak sedikit orang yang ikut-ikutan dan memilih salah satu sistem budidaya yang diketahuinya. Ya, ada semacam euphoria, ikut-ikutan dan langsung terjun mengikuti gemerlapnya budidaya ikan yang dipilihnya.

Sebagian orang, banyak yang ikut-ikutan budidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Lalu mereka pikir caranya sederhana dan simple. Yaitu cukup tuangkan activator probiotiknya ke kolam, atau pakannya difermentasi dan langsung diberikan ke ikan lele. Titik. Dan sesederhana itu.

Namun setelah mengenal lebih dalam, ternyata ada SOP khusus dan detail untuk menjalankan sistem budidaya lele bio flok itu.

Bagi orang yang tak menyukai detail, rincian yang sistemik dan tuntutan sebuah teknologi mikroorganisme, sistem bioflok itu dirasakan sulit. Lalu, dicarilah kambing hitam. Menyalahkan air yang pH-nya tidak stabil, hingga alasan lain yang dirasakan masuk akal untuk menutupi ketidakmampuan mereka sendiri dalam menguasai sistem bioflok.

Sebagian orang yang merasa pusing dengan kerumitan bioflok, lalu berbondong-bondog mereka beralih ke RAS : Resirculation Aquaqultur System. Tanpa tahu apa itu RAS. Semisal, harus mampu memompa 5x volume airnya selama 24 jam, dengan setidaknya 4 tahapan penyaringan yang harus dilakukan, dan lain-lain, dan lain sebagainya.

Lebih celaka lagi, ada yang memprovokasi dengan cara yang tidak elok. Digembar-gemborkanlah “lupakan flok, beralihlah ke RAS”. Hehehe…. ini lucu dan terkesan kekanak-kanakan.

Bisa jadi, ini karena mereka belum mengerti apa RAS yang sebernarnya. Padahal senyatanya RAS punya kelebihan dan kekurangan, sebagaimana kelebihan dan kekurangan di sistem-sistem lainnya. Mereka hanya silau dan tahunya hanya ikannya bagus, segar, mudah prosesnya dan menyenangkan lihatnya. Mereka tak menghitung berapa return of investment-nya, berapa penghematan pakannya, berapa tenaga lisrik yang tersedot, dan perhitungan analisis ekonominya lainnya.

Lalu, pertanyaannya sekarang : sistem budidaya ikan mana yang paling bagus ?

Jawabannya, tentu saja saya kembalikan pada penilaian dan keyakinan teman-teman semua.

Yang jelas, apa pun sistemnya, tetaplah berpikiran terbuka dan kritis. Terlepas, siapa pun yang menyampaikan sistem dan teknik budidaya ikan itu.

Namun, agar tak bingung, ada baiknya kita menggunakan parameter yang sama, yaitu 7 Indikator Keberhasilan Budidaya Ikan yang masuk akal, dapat dibandingkan satu sama lain dan dapat dipertanggungjwabkan.

Jadi, sebelum memutuskan pilihan budidaya yang tepat yang mana yang akan dijalankan, silakan gunakan dan bandingkan 7 indikator ini pada sistem lainnya yang akan kita jajaki atau kita pakai.

Nah, begitulah teman-teman… semoga teman-teman pembudidaya dapat memahami dan kritis terhadap sebuah trend. Jangan asal ikut-ikutan ! Tapi gunakan akal sehat, pilih yang benar-benar menguntungkan.

Nah teman-teman, bila teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut mengenai budidaya ikan lele ini, silakan kontak saja : Agung MSG – HP : 0813 2045 5598 (Telegram, WhatsApp).